dear god

Get Free Music at BlogRion
Get Free Music BlogRion

Free Music at BlogRion

Selamat Datang

"Selamat Datang" di BLOG nya Anak MIPA

Kamis, 24 Oktober 2019

Sistem Syaraf dan Sistem Indra pada Manusia

Sistem Saraf pada Manusia

Neuron atau sel saraf adalah merupakan sel yang terpanjang yang dipunyai oleh tubuh manusia yang memiliki tugas untuk menerima dan juga untuk menghantarkan impuls (rangsangan) ke tempat yang dituju.
Keterangan gambar:

1. Dendrit
2. Badan sel
3. Inti sel/ nukleus
4. Akson

Berikut adalah 3 komponen dari sistem saraf yaitu:
  • Impuls yaitu rangsangan/ pesan yang disampaikan melewati suatu senyawa kimia yang ada dalam tubuh kita (asetikolin).
  • Reseptor yaitu struktur yang bisa menerima rangsangan (impuls) yang bisa berupa sel, jaringan/organ, alat gerak, otot.
  • Elektor yaitu yang bisa menanggapi impuls yang yang bisa berupa sel, jaringan/organ, alat gerak, otot.
Organ penyusun sel neuron yaitu:
  1. Dendrite adalah penjuluran pendek sitoplasma yang keluar dari badan sel yang bercabang-cabang yang mempunyai fungsi untuk menerima dan menghantarkan impuls dari luar sel neuron ke dalam badan sel.
  2. Badan sel adalah bagian neuron yang jumlahnya banyak berisi cairan sel (sitoplasma) dan terdapatnya nukleus (inti sel) yang mempunyai fungsi untuk menerima rangsangan dari dendrit dan menghantarkannya menuju akson dengan perantaraan sitoplasma.
  3. Nukleus adalah bagian yang terpenting dari suatu sel dan bentuknya akan menyesuaikan bentuk sel yang mempunyai fungsi sebagai pengatur dari seluruh kegiatan sel dan pembelahan sel.
  4. Akson/ neurit adalah penjuluran panjang yang keluar dari badan sel yang memmpunyai fungsi untuk menerima rangsangan dari badan sel dan menghantarkannya ke percabagan akson.
Pengelompokan sel saraf/ neuron berdasarkan fungsinya dapat dibagi menjadi 3 :
  1. Saraf sensorik/ aferen adlah neuron yang mempunyai fungsi untuk menghantarkan rangsangan dari indra menuju ke pusat (otak) dan sumsum tulang belakang.
  2. Saraf motorik/ eferen adalah neuron yang mempunyai fungsi untuk menghantarkan impuls dari sistem saraf pusat ke efektor.
  3. Saraf konektor/ interneuron/ penghubung adalah neuron yang  menghubungkan/ menyambungkan saraf sensorik dengan saraf motorik di dalam sistem saraf pusat.
Pengelompokan sel saraf/ neuron berdasarkan strukturnya dapat dibagi menjadi 3 :
  1. Neuron unipolar adalah neuron yang mempunyai 1 buah akson yang bercabang;
  2. Neuron bipolar adalah neuron yang mempunyai 1 buah akson dan 1 dendrit;
  3. Neuron multipolar adalah neuron yang mempunyai 1 akson dan sejumlah dendrit.
Pengertian sinapsis adalah hubungan penyampaian rangsangan dari suatu neuron ke neuron yang lainnya dan umumnya terjadi dari ujung percabangan akson dengan ujung dendrit neuron yang lain.

Pengelompokan gerakan berdasarkan tanggapan impuls dibedakan menjadi 2 yaitu gerak biasa dan gerak refleks.
- Gerak biasa adalah gerakan yang benar-benar kita sadari gerakannya dan impuls akan diolah oleh otak dan medulla spinalis terlebih dahulu sebelum menjadi suatu gerakan.

Proses/ bagan gerak biasa:

impuls > reseptor > neuron sensorik > medulla spinalis > otak > medulla spinalis > interneuron > neuron motorik > efektor > gerakan.

- gerak refleks adalah suatu gerakan yang tanpa kita sadari karena menanggapi rangsangan secara langsung, dengan demikian pada gerak reflek ini tidak diolah oleh otak. Jarak terpendek efektor  dalam menanggapi impuls disebut lengkung refleks.

Proses/ bagan gerak refleks:

impuls > reseptor > neuron sensorik > medulla spinalis > interneuron > neuron motorik > efektor > gerakan.

Sistem saraf pada manusia dibedakan menjadi a). sistem saraf pusat dan b). susunan saraf tepi/ perifer.

Sistem Saraf Pusat

1. Otak

Otak diselubungi oleh suatu selaput yang dikenal sebagai selaput meninges yang mana selaput tersebut terdiri dari 3 lapisan antara lain:
  • Lapisan piameter : adalah mempunyai fungsi untuk melindungi otak secara langsung.
  • Lapisan araknoid : adalah mempunyai fungsi untuk melindungi otak dan medulla spinalis dari guncangan.
  • Lapisan durameter : adalah mempunyai fungsi untuk melindungi jaringan-jaringan yang halus dari otak dan medulla spinalis.
Bagian-bagian otak terdiri dari:

a. cerebrum
b. mesencephalon
c. diencephalon
d. cerebellum

Untuk selanjutnya tentang bagian otak, berikut ulasannya.

a. cerebrum

Adalah bagian otak yang mengisi untuk sebagian besar dari otak kita sekitar 7/8 dari otak. Cerebrum memiliki 2 bagian yang berupa belahan otak yaitu otak besar belahan kanan dan otak besar belahan kiri. Otak besar belahan kanan mempunyai fungsi untuk mengatur kegiatan organ tubuh bagian kiri sedangkan otak besar belahan kiri mempunyai fungsi mengatur kegiatan organ tubuh bagian kanan.

b. mesencephalon

Adalah merupakan bagian otak yang mempunyai letak di depan  cerebellum  dan jembatan varol yang memiliki fungsi sebagai pusat dari proses pengaturan refleks mata, refleks penyempitan pupil mata dan pendengaran.

c. diencephalon

Adalah merupakan bagian dari otak yang mempunyai letak di bagian atas dari batang otak dan di depan mesencephalon yang terdiri dari talamus dan hipotalamus dimana talamus tersebut berfungsi sebagai stasiun pemancar bagi impuls yang sampai pada otak dan medula spinalis, sedangkan hipotalamus mempunyai fungsi sebagai pusat dari pengaturan suhu tubuh, selera makan dan keseimbangan cairan tubuh rasa lapar, seksualitas, watak dan emosi.

d. cerebellum

Adalah bagian otak yang mempunyai letak pada bagian belakang otak besar yang mempunyai fungsi sebagai pusat dari pengaturan koordinasi gerakan yang disadari dan juga keseimbangan tubuh serta posisi tubuh kita. Bagian cerebellum yaitu terbagi menjadi 2 belahan : belahan cerebellum bagian kanan dan cerebellum bagian kiri. Cerebellum bagian kanan dan kiri yang dihubungkan dengan jembatan verol yang mempunyai fungsi untuk mengantarkan rangsangan dari otot -otot belajhan kiri dan kanan.

2. Medulla
- Medulla oblogata atau sering dikenal dengan sebutan sumsum lanjutan atau penghubung  atau batang otak yang mempunyai letak secara langsung setelah otak dan menyambungkan atau menghubungkan dengan medulla spinalis di depan cerebellum. Sedangkan fungsinya adalah sebagai pusat dari pengaturan ritme respirasi, denyut dari jantung, penyempitan dan pelebaran pembuluh darah, tekanan darah, gerak lat pencernakan, menelan, batuk, bersin dan sendawa.
- Medulla spinalis dikenal dengan nama lain sumsum tulang belakang yang mempunyai letak di dalam ruas-ruas tulang belakang yaitu antara ruas tulang leher sampai dengan  tulang pinggang  yang kedua. Medulla spinalis mempunyai fungsi untuk pusat gerak refleks dan menghantaran rangsangan dari organ ke otak dan dari otak ke organ tubuh.

Susunan Saraf Tepi (Perifer)

Adalah merupakan sistem saraf yang menghubungkan seluruh bagian tubuh dengan sistem saraf pusat.

1. Sistem saraf sadar/ somatik

Pada sistem saraf sadar mempunyai sistem kerja yang berlangsung secara sadar (dapat diperintah oleh otak kita). Pada sistem saraf sadar dibedakan menjadi 2 yaitu:

1.a). Sistem saraf pada otak
Adalah merupakan sistem saraf yang mempunyai pusat pada otak dan dibedakan menjadi 12 pasang saraf antara lain sebagai berikut :
Sistem Saraf Pada Otak
1.b). Sistem saraf sumsum spinalis

Adalah merupakan sistem saraf yang mempunyai pusat pada medula spinalis (sumsum tulang belakang) yang memiliki jumlah 31 pasang saraf yang terbagi sepasang medula spinalis.
2. Sistem saraf otonom

Adalah sistem saraf yang mempunyai sistem kerja secara tidak sadar/ diluar perintah otak yang mana pada sistem saraf otonom mensarafi semua otot polos, kelenjar endokrin, otot jantung dan juga kelenjar eksokrin. Sistem saraf otonom dibedakan menjadi 2 bagian yaitu : saraf simpatik dan saraf parasimpatik yang keduanya bekerja secara berlawanan (antagonis).
Sistem saraf otonom

Sistem Indra pada Manusia

Indra pada manusia terdiri dari 5 macam atau yang lebih dikenal sebagai panca indera yang meliputi antara lain:

1. Mata (indra penglihatan);
2. Telinga (indra pendengaran);
3. Hidung (indra pencium);
4. Lidah (indra pengecap);
5. Kulit (indra peraba).
Untuk masing-masing panca indra akan diuraikan pada yang berikut ini:

Mata

Mata adalah sebagai alat penerima rangsang cahaya atau dikenal dengan sebutan fotoreseptor. Bentuk dari bola amata adalah agak bulat yang dilapisi oleh 3 buah jaringan antara lain : lapisan luar mata, lapisan tengah mata dan lapisan dalam mata.

a. Kornea mata. Adalah merupakan bagian mata depan yang bening, transparan dan tembus pandang yang mempunyai fungsi untuk membantu retina dalam mefokuskan bayangan.

b. Iris mata (selaput pelangi). Terletak di depan lensa mata yang bersambung dengan selaput koroid. Fungsi dari iris mata adalah untuk mengecilkan/ membesarkan ukuran pupil. Pada iris inilah mata mempunyai warna.

c. Pupil. Adalah merupakan bintik tengah iris mata dan merupakan celah dalam iris mata yang dilewati oleh cahaya dalam rangka mencapai retina. Pada pupil dapat membesar/ mengecil tergantung pada intesitas dari cahaya yang masuk/ diterima.

d. Aqueus humour. Adalah merupakan cairan yang mempunyai asal dari badan siliari dan diserap kembali  ke dlam aliran darah pada sudut antara iris mata dan kornea mata melewati pembuluh vena yang halus (venula).

e. Lensa. Adalah  merupakan benda cembung pada kedua sisinya (bikonveks) yang terletak tepat di belakang iris mata.

f. Vitreus Humour. Adalah cairan yang mempunyai warna putih mirip dengan agar-agar yang mempunyai fungsi untuk membentuk mata dan mengokohkannya. Selain fungsi tersebut juga mempunyai fungsi untuk mempertahankan hubungan antara retina dan selaput koroid.

Cara Kerja Mata adalah sebagai berikut:

Cahaya masuk ke mata melewati pupil lalu dilanjutkan ke lensa mata, kemudian lensa mata akan mengarahkan cahaya sehingga akan tepat jatuh di retina. Ujung saraf yang ada di retina akan menyampaikan bayangan benda yang ditangkap ke otak dan otak akan memprosesnya sehingga kita akan dapat melihat suatu benda.

Telinga

Bagian Telinga
Adalah sebagai penerima rangsang getaran bunyi atau dikenal sebagai fonoreseptor dan juga merupakan tempat beradanya indra keseimbangan (statoreseptor).

Bagian telinga terdiri dari 3 bagian antara lain telinga luar, telinga tengah dan  rongga telinga dalam. Untuk masing-masing bagian akan dibahas yang berikut ini.

a. Telinga bagian luar.

Pada bagian ini terdiri dari daun telinga yang merupakan tulang rawan yang elastis. Daun telinga memiliki fungsi untuk menerima dan mengumpulkan gelombang suara di mana terdapat rambut-rambut yang halus yang berfungsi untuk menghalang-halangi adanya suatu benda asing yang masuk ke dalam telinga. Selain itu terdapat adanyakelenjar lilin yang melindungi supaya permukaan saluran luar dan gendang telinga tidak kering.

b. Telinga bagian tengah/ rongga timphani.

Adalah merupakan bilik kecil yang terdapat udara. Letak dari rongga timphani adalah terdapat di sebelah dalam membran timphani (gendang telinga). Pada bagian depan telinga tengah terdapat adanya saluran eustachius yang menghubungkan antara rongga mulut dengan telinga bagian tengah kita. Saluran ini mempunyai fungsi untuk menjaga keseimbangan tekanan udara antara udara luar dengan  udara di dalam telinga tengah. Pada rongga telinga tengah terdapat adanya 3 tulang pendengaran : tulang martil/ maleus yang menempel pada gendang telinga, tulang landasan/ incus dan tulang sanggurdi/ stapes yang berkaitan dengan tingkap oval pada telinga dalam. Fungsi dari ke-3 tulang tersebut akan mengalirkan getaran suara dari gendang telinga ke rongga telinga dalam.

c. Telinga bagian dalam

Pada bagian dalam terdapat adanya 3 saluran setengah lingkaran dan koklea (rumah siput).

Proses Mendengar pada manusia adalah sebagai berikut:

Getaran bunyi akan diterima dan dikumpulkan pada bagian daun telinga kemudian getaran tersebut dilanjutkan oleh gendang telinga menuju tulang pendengaran yang diterima oleh tingkap jorong dan rumah siput, kemudian getaran suara akan mengetarkan cairan limfa yang ada di dalam rumah siput yang kemudian akan merangsang ujung saraf pendengaran dan rangsangan akan dilanjutkan ke otak. Kemudian di otak akan diproses sehingga kita dapat mendengar suara.

Hidung

Adalah sebagai penerima rangsang bau yang berupa gas (kemoreseptor). Adapun bagian-bagian hidung terdiri dari:

1. Saraf pembau yang mempunyai letak pada selaput lendir di rongga hidung atas;
2. Selaput lendir;
3. Rambut hidung yang mempunyai fungsi sebagai filter/ saringan terhadap kotoran yang akan masuk ke rongga hidung.

Proses membau pada manusia adalah sebagai berikut:

 Bau (gas) yang mencapai ke hidung kita akan merangsang ujung saraf indra pembau, lalu rangsangan tersebut dilanjutkan menuju otak dan otak akan memprosesnya sehingga bisa menterjemahkan terhadap bau yang kita hirup.

Lidah

Bagian Lidah
Adalah sebagai penerima rangsang zat yang terlarut atau dikenal dengan sebutan kemoreseptor. Adapun fungsi lidah kita antara lain sebagai berikut:

1. Mengatur terhadap makanan yang berada di dalam mulut;
2. Untuk memberi bantuan dalam menelan makanan;
3. Mengecap rasa dari makanan;
4. untuk memberi bantuan dalam mengucapkan perkataan.

Bagian lidah kita yaitu:

1. Papilla adalah tonjolan-tonjolan pada permukaan lidah kita;
2. Saraf pengecap yang ada pada papilla;
3. Pangkal lidah sensitif terhadap rasa yang pahit;
4. Ujung lidah yang sensitif terhadap rasa manis;
5. Pinggir lidah yang sensistif terhadap rasa asin dan asam.

Kulit

Kulit selain masuk dalam sistem ekskresi juga merupakan sebagai alat indra manusia. Kulit adalah sebagai penerima terhadap rangsangan yang berupa sentuhan (tangoreseptor). Adapun fungsi kulit adalah sebagai indra peraba, dapat membantu untuk mengatur suhu tubuh, mengendalikan hilanggnya air dari tubuh dan memiliki sedikit kemampuan eksretori, sekretori dan juga absorbsi. Bagian kulit terbagi menjadi 2 bagian yaitu bagian epidermis (kutikula) dan dermis (korium).

Reseptor pada kulit adalah:

1. Lempeng merkel : reseptor untuk sentuhan ringan yang terletak pada bagian dalam epidermis;
2. Korpuskula Meissner : reseptor sentuhan/ rabaan ringan yang terdapat di bagian epidermis pada bagian kulit yang sensitif;
3. Korpuskula Pacini : reseptor tekanan kuat yang terletak pada bagian dalam dermis serta di lapisan subkutan;
4. Korpuskula Ruffini : reseptor tekanan kuat dan juga terus menerus serta panas yang terletak di bagian dermis dan lapisan subkutan;
5. Ujung saraf Krause : reseptor untuk rasa dingin yang terletak pada bagian dermis.

Kelainan dan Penyakit pada Alat Indra Manusia yaitu :
  1. Rabun dekat/ hipermetropia : tidak dapat melihat dekat, hal ini karena lensa mata terlalu pipih atau bola mata terlalu pendek, hal ini menyebabkan bayangan benda akan jatuh dibelakang retina.
  2. Rabun Jauh/ miopi. : tidak bisa melihat jauh, hal ini karena lensa mata terlalu cembungatau lensa mata terlalu panjang sehingga bayangan benda akan jatuh di depan retina.
  3. Mata Silinder/ Astigmatis. Adalah kelainan pada mata yang meyebabkan penglihatan kita menjadi kabur. Hal ini karena penderita mata silinder tidak bisa melihat garis vertikal dan horisontal secara bersama-sama. Mata tidak bisa memfokuskan bayangan benda sebab kornea mata tidak berbentuk bola. Cara mengatasi astigmatis adalah dengan menggunakan kaca mata silinder.
  4. Rabun dekat dan jauh/ presbiopia. Adalah bagi penderitanya dengan ditandai mata tidak bisa melihat jauh dan dekat. Hal ini dikarenakan adanya mulai berkurangnya daya akomodasi dari mata. Kelainan ini biasa dialami oleh orang yang sudah lanjut usia atau sering juga disebut sebagai mata tua. Cara mengatasinya adalah dengan menggunakan kacamata rangkap (bagian atas cekung/ negatif dan bagian bawah cembung/ positif)
  5. Rabun senja/ rabun ayam : tidak dapat melihat dengan baik ketika senja dan malam hari saat hari mulai remang-remang. Gangguan mata ini disebabkan karena kekurangan vitamin A.
  6. Buta warna : gangguan mata di mana penderitanya tidak dapat mengenai warna-warna tertentu. Buta warna terbagi menjadi 2 yaitu buta warna total (hanya melihat warna hitam, putih dan abu-abu) dan buta warna sebagian (buta warna merah dan hijau).  Buta warna adalah merupakan penyakit turunan.
  7. Keratomalasi : kornea mata yang keruh.
  8. Glaukoma : ditandai dengan peningkatan tekanan dalam bola mata. Tekanan terjadi disebabkan karena adanya sumbatan pada saluran di dalam bola mata dan pembentukan cairan mata yang berlebihan. Kelainan yang tidak segera diobati dpat menyebabkan kebutaan. Kelainan ini dapat di atasi dengan obat-obatanyang harus diminum seumur hidup atau dengan proses pembedahan/ operasi.
  9. Dermatitis atopic/ aksema : peradangan di masa kanak-kanak.
  10. Anosmia : hilangnya/ berkurangnya kemampuan untuk mencium bau.
  11. Radang telinga/ otitis : peradangan sebagaian/ seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid.
  12. Otosklerosis : tuli yang menahun karena tulang ssanggurdi tidak dapat bergerak dengan leluasa dan kaku. Cara menangani gangguan ini adalah dengan pergi ke dokter THT.
sumber :https://www.aanwijzing.com/2016/07/Sistem-Koordinasi-dan-Alat-Indra-pada-Manusia-Biologi-SMP-MTs-Kelas-IX.html 

Kamis, 13 September 2018

Metode Pembelajaran

Pada dasarnya guru adalah seorang pendidik. Pendidik adalah orang dewasa dengan segala kemampuan yang dimilikinya untuk dapat mengubah psikis dan pola pikir anak didiknya dari tidak tahu menjadi tahu serta mendewasakan anak didiknya. Salah satu hal yang harus dilakukan oleh guru adalah dengan mengajar di kelas. Salah satu yang paling penting adalah performance guru di kelas. Bagaimana seorang guru dapat menguasai keadaan kelas sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan. Dengan demikian guru harus menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didiknya.
Tiap-tiap kelas bisa kemungkinan menggunakan metode pembelajaran yang berbeda dengan kelas lain. Untuk itu seorang guru harus mampu menerapkan berbagai metode pembelajaran. Disini saya akan memaparkan beberapa metode pembelajaran menurut Ns. Roymond H. Simamora, M.Kep yang dapat kita digunakan.

Macam-Macam Metode pembelajaran :

1. Metode Ceramah
Metode pembelajaran ceramah adalah penerangan secara lisan atas bahan pembelajaran kepada sekelompok pendengar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam jumlah yang relatif besar. Seperti ditunjukkan oleh Mc Leish (1976), melalui ceramah, dapat dicapai beberapa tujuan. Dengan metode ceramah, guru dapat mendorong timbulnya inspirasi bagi pendengarnya.
Gage dan Berliner (1981:457), menyatakan metode ceramah cocok untuk digunakan dalam pembelajaran dengan ciri-ciri tertentu. Ceramah cocok untuk penyampaian bahan belajar yang berupa informasi dan jika bahan belajar tersebut sukar didapatkan.
2. Metode Diskusi
Metode pembelajaran diskusi adalah proses pelibatan dua orang peserta atau lebih untuk berinteraksi saling bertukar pendapat, dan atau saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga didapatkan kesepakatan diantara mereka. Pembelajaran yang menggunakan metode diskusi merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif (Gagne & Briggs. 1979: 251).
Menurut Mc. Keachie-Kulik dari hasil penelitiannya, dibanding metode ceramah, metode diskusi dapat meningkatkan anak dalam pemahaman konsep dan keterampilan memecahkan masalah. Tetapi dalam transformasi pengetahuan, penggunaan metode diskusi hasilnya lambat dibanding penggunaan ceramah. Sehingga metode ceramah lebih efektif untuk meningkatkan kuantitas pengetahuan anak dari pada metode diskusi.
3. Metode Demonstrasi
Metode pembelajaran demontrasi merupakan metode pembelajaran yang sangat efektif untuk menolong siswa mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti: Bagaimana cara mengaturnya? Bagaimana proses bekerjanya? Bagaimana proses mengerjakannya. Demonstrasi sebagai metode pembelajaran adalah bilamana seorang guru atau seorang demonstrator (orang luar yang sengaja diminta) atau seorang siswa memperlihatkan kepada seluruh kelas sesuatau proses. Misalnya bekerjanya suatu alat pencuci otomatis, cara membuat kue, dan sebagainya.
Kelebihan Metode Demonstrasi :
a. Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan.
b. Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
c. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa.
Kelemahan metode Demonstrasi :
a. Siswa kadang kala sukar melihat dengan jelas benda yang diperagakan.
b. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.
c. Sukar dimengerti jika didemonstrasikan oleh pengajar yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan.

4. Metode Ceramah Plus
Metode Pembelajaran Ceramah Plus adalah metode pengajaran yang menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah yang dikombinasikan dengan metode lainnya. Ada tiga macam metode ceramah plus, diantaranya yaitu:
a. Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas
b. Metode ceramah plus diskusi dan tugas
c. Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL)

5. Metode Resitasi
Metode Pembelajaran Resitasi adalah suatu metode pengajaran dengan mengharuskan siswa membuat resume dengan kalimat sendiri.

Kelebihan Metode Resitasi adalah :
a. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama.
b. Peserta didik memiliki peluang untuk meningkatkan keberanian, inisiatif, bertanggung jawab dan mandiri.
Kelemahan Metode Resitasi adalah :
a. Kadang kala peserta didik melakukan penipuan yakni peserta didik hanya meniru hasil pekerjaan orang lain tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri.
b. Kadang kala tugas dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan.
c. Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual.
6. Metode Eksperimental
Metode pembelajaran eksperimental adalah suatu cara pengelolaan pembelajaran di mana siswa melakukan aktivitas percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri suatu yang dipelajarinya. Dalam metode ini siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri dengan mengikuti suatu proses, mengamati suatu obyek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri tentang obyek yang dipelajarinya.
7. Metode Study Tour (Karya wisata)
Metode study tour Study tour (karya wisata) adalah metode mengajar dengan mengajak peserta didik mengunjungi suatu objek guna memperluas pengetahuan dan selanjutnya peserta didik membuat laporan dan mendiskusikan serta membukukan hasil kunjungan tersebut dengan didampingi oleh pendidik.
8. Metode Latihan Keterampilan
Metode latihan keterampilan (drill method) adalah suatu metode mengajar dengan memberikan pelatihan keterampilan secara berulang kepada peserta didik, dan mengajaknya langsung ketempat latihan keterampilan untuk melihat proses tujuan, fungsi, kegunaan dan manfaat sesuatu (misal: membuat tas dari mute). Metode latihan keterampilan ini bertujuan membentuk kebiasaan atau pola yang otomatis pada peserta didik.
9. Metode Pengajaran Beregu
Metode pembelajaran beregu adalah suatu metode mengajar dimana pendidiknya lebih dari satu orang yang masing-masing mempunyai tugas.Biasanya salah seorang pendidik ditunjuk sebagai kordinator. Cara pengujiannya,setiap pendidik membuat soal, kemudian digabung. Jika ujian lisan maka setiapsiswa yang diuji harus langsung berhadapan dengan team pendidik tersebut
10. Peer Theaching Method
Metode Peer Theaching sama juga dengan mengajar sesama teman, yaitu suatu metode mengajar yang dibantu oleh temannya sendiri.
11. Metode Pemecahan Masalah (problem solving method)
Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanyasekadar metode mengajar, tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebabdalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya yang dimulaidengan mencari data sampai pada menarik kesimpulan.
Metode problem solving merupakan metode yang merangsang berfikir danmenggunakan wawasan tanpa melihat kualitas pendapat yang disampaikan olehsiswa. Seorang guru harus pandai-pandai merangsang siswanya untuk mencobamengeluarkan pendapatnya.
12. Project Method
Project Method adalah metode perancangan adalah suatu metode mengajar dengan meminta peserta didik merancang suatu proyek yang akan diteliti sebagai obyek kajian.
13. Taileren Method
Teileren Method yaitu suatu metode mengajar dengan menggunakan sebagian-sebagian,misalnya ayat per ayat kemudian disambung lagi dengan ayat lainnya yang tentusaja berkaitan dengan masalahnya
14. Metode Global (ganze method)
Metode Global yaitu suatu metode mengajar dimana siswa disuruh membaca keseluruhan materi, kemudian siswa meresume apa yang dapat mereka serap atau ambil intisaridari materi tersebut.

Demikian macam-macam metode pembelajaran

Semoga dapat menjadi bahan acuan dalam menerapakan metode pembelajaran untuk peserta didik.
Buku acuan : Simamora, Roymond H. (2009). BUKU AJAR PENDIDIKAN DALAM KEPERAWATAN. Jakarta : EGC


Sumber : http://belajarpsikologi.com/macam-macam-metode-pembelajaran/

Model-model Pembelajaran

Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Dalam prakteknya guru (pengajar) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang tersedia dan kondisi guru itu sendiri.

Berikut disajikan beberapa model pembelajaran untuk dipilih dan dijadikan alternatif (Silakan Klik Link masing-masing model pembelajaran untuk mengetahui penjelasan singkat) :

  1. CTL (Contextual Teacing and Learning)
  2. RME (Realistic Mathematics Education)
  3. DL (Direct Learning)
  4. PBL (Problem Based Learning)
  5. Problem Solving
  6. Problem Posing
  7. OE (Open Ended)- Problem Terbuka
  8. Probing-Prompting
  9. Pembelajaran Bersiklus (Cycle Learning)
  10. Reciprocal Learning
  11. SAVI (Somatic-Auditory-Visualization-Intellectualy)
  12. TGT (Teams Game Tournament)
  13. VAK (Visualization, Auditing, Kinstetic)
  14. AIR (Auditory, Intellectuality, Repetition)
  15. TAI (Team Assisted Individuality)
  16. STAD (Student Team Achievement Division)
  17. NHT (Numbered Head Together)
  18. Jigsaw
  19. TPS (Think Pair Share)
  20. GI (Group Investigation)
  21. MEA (Mean ands Analysis)
  22. CPS (Creative Problem Solving)
  23. TTW (Thing Talk Write)
  24. TS-TS (Two Stay-Two Stray)
  25. CORE (Connection, Organizing, Reflecting, Extending)
  26. SQ3R + SQ4R
  27. MID (Meaningful Instructional Design)
  28. KUASAI
  29. CRI (Certainly of Response Index)
  30. DLPS (Double Loop Problem Solving)
  31. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy)
  32. CIRC (Cooperative, Integrated, Reading and Compositon)
  33. IOC (Inside Outside Circle)
  34. Tari Bambu
  35. Artikulasi
  36. Debate
  37. Role Playing
  38. Talking Stick
  39. Snowball Throwing
  40. Student Fasilitator ang Explaining
  41. Course Review Horay
  42. Demonstration
  43. Explicit Instruction
  44. Scramble
  45. Pair Checks
  46. Make-A-Match
  47. Mind Mapping
  48. Examples non Examples
  49. Picture and Picture
  50. Cooperative Script
  51. LAPS-Heuristik
  52. Improve
  53. Generatif
  54. Circuit Learning
  55. Complete Sentence
  56. Concept Sentence
  57. Time Token
  58. Take and Give
  59. Superitem
  60. Hibrid
  61. Treffinger
  62. Kumon
  63. Quantum



Sumber : http://weblogask.blogspot.com/2012/02/model-model-pembelajaran.html

Pustaka : Ngalimun, 2012.  Strategi dan Model Pembelajaran. Banjarmasin. Scripta Cendekia.

Jumat, 22 Juni 2018

Teori - Teori Pembelajaran

A.   Latar Belakang
Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk suatu perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak memiliki sikap menjadi bersikap benar, dari tidak terampil menjadi terampil melakukan sesuatu.  Belajar tidak hanya sekedar memetakan pengetahuan atau informasi yang disampaikan.  Namun bagaimana melibatkan individu secara aktif  membuat atau pun merevisi hasil belajar yang diterimanya menjadi suatu pengalamaan yang bermanfaat bagi pribadinya.  Pembelajaran merupakan suatu sistim yang membantu individu belajar dan berinteraksi dengan sumber belajar dan lingkungan. 
Teori adalah seperangkat azaz yang tersusun tentang kejadian-kejadian tertentu dalam dunia nyata dinyatakan oleh McKeachie dalam grendel 1991 : 5 (Hamzah Uno, 2006:4).  Sedangkan Hamzah (2003:26) menyatakan bahwa teori merupakan seperangkat preposisi yang didalamnya memuat tentang ide, konsep, prosedur dan prinsip yang terdiri dari satu atau lebih variable yang saling berhubungan satu sama lainnya dan dapat dipelajari, dianalisis dan diuji serta dibuktikan kebenarannya. Dari dua pendapat diatas Teori adalah seperangkat azaz tentang kejadian-kejadian yang didalamnnya memuat ide, konsep, prosedur dan prinsip yang dapat dipelajari, dianalisis dan diuji kebenarannya.  Teori belajar adalah suatu teori yang di dalamnya terdapat tata cara pengaplikasian kegiatan belajar mengajar antara guru dan siswa, perancangan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan di kelas maupun di luar kelas.
B.   Teori-Teori Klasik
1.    Behavioristik
Teori Behavioristik merupakan teori dengan pandangan tetang belajar  adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon.  Atau dengan kata lain belajar adalah perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. (Hamzah Uno, 7: 2006). Para ahli yang banyak berkarya dalam aliran ini adalah Thorndike, Watson, Hull, Edwin Guthrie dan Skinner. Teori belajar Skinner akan dijelaskan pada bagian yang khusus yaitu teori belajar proses.
a.    Thorndike 
Menurut Thorndike (Hamzah Uno, 7:2006) belajar adalah proses interaksi antara stimulu dan respon. Menurut Thorndike perubahan tingkah laku bisa berwujud sesuatu yang dapat diamati atau yang tidak dapat diamati
b.    Watson
Menurut Watson (Hamzah Uno,7:2006) belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon .  Stimulus dan respon tersebut berbentuk tingkah laku yang bisa diamati. dengan kata lain Watson mengabaikan berbagai perubahan mental yang mungkin terjadi dalam belajar dan menganggapnya sebagai faktor yang tidak perlu diketahui karena faktor-faktor tersebut tidak bisa menjelaskan apakah proses belajar telah terjadi atau belum.
c.    Clark Hull
Hull berpendapat bahwa tingkah laku seseorang berfungsi untuk menjaga kelangsungan hidup.  Oleh karena itu kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis menempati posisi sentral.  Menurut Hull kebutuhan dikonsepkan sebagai dorongan, stimulus hampir selalu dikaitan dengan kebutuhan biologis.
d.    Edwin Guthrie
Guthrie mengemukakan bahwa belajar merupakan kaitan asosiatif antara stimulus dan respon tertentu.  Stimulus dan respon merupakan faktor kritis dalam belajar.  Oleh karena itu diperlukan pemberian stimulus yang sering agar hubungan lebih langgeng.  Suatu respon akan lebih kuat (dan bahkan menjadi kebiasaan) apabila respon tersebut berhubungan dengan berbagai stimulus. 
Guthrie mengemukakan bahwa hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Menurutnya suatu hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu merubah kebiasaan seseorang.  Contoh seorang anak perempuan yang setiap kali pulang sekolah selalu mencampakkan baju dan topinya dilantai.  Ibunya menyuruh agar baju dan topi dipakai kembali oleh anaknya.  Lalu kembali keluar, dan masuk rumah kembali sambil mengantungkan baju dan topinya di tempat gantungannya.  Setelah beberapa kali melakukan hal itu, respon menggantung topi dan baju menjadi terasosiasi dengan stimulus memasuki rumah.
2.    Pengkondisian klasik
Teori-teori klasik dipelapori oleh seorang ahli sosiologi Rusia bernama Ivan Pavlo pada awal tahun 1900 an.  Untuk menghasilkan teori ini Ivan Pavlov melakukan suatu eksperimen secara sistimatis dan saintifik, dengan tujuan mengkaji bagaimana pembelajaran berlaku pada suatu organisme.
Pavlov melakukan suatu eksperimen terhadap anjing. Dia meletakkan secara rutin bubur daging di depan mulut anjing .  Anjing mengeluarkan air liur .  air liur yang dikeluarkan oleh anjing merupakan suatu stimulus yang diasosiasikan dengan makanan. Pavlov juga menggunakan lonceng sebelum makanan diberikan.
Berdasarkan hasil eksperimen pavlo diperoleh suatu kesimpulan bahwa asosiasi terhadap penglihatan dan suara dengan makanan ini merupakan tipe pembelajaran yang penting, yang kemudian dikenal dengan Teori Pengkondisian Klasik.
Pengkondisian klasik adalah tipe pembelajaran dimana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimulus. (Santrock, 2010).  Dalam pengkondisian klasik stimulus netral (seperti melihat seseorang) diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna (seperti makanan) dan menimbulkan kapasitas untuk menghasilkan respon yang sama. 
Dalam teori pengkondisian klasik ada 2 tipe stimulus dan 2 tipe respon,yang harus dipahami yaitu Unconditioned Stimulus (US), Unconditoned respon (ER), Conditioned Stimulus (CS), dan Conditioned Respon (CR). 
Unconditioned Stimulus (US) adalah sebuah stimulus yang secara otomatis menghasilkan respon tanpa ada pembelajaran terlebih dahulu. Dalam eksperimen Pavlov makanan adalah US. Unconditioned Respon adalah respon yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh US, dalam eksperimen Pavlov air liur anjing yang merespon makanan adalah UR.
Conditioned Stimulus adalah stimulus yang sebelumnya netral yang akhirnya menghasilkan conditioned respon setelah diasosiasi dengan US. Dalam espemen Pavlov beberapa penglihatan dan suara yang terjadi sebelum anjing menyantap makanan.  Conditioned Respon adalah respon yang dipelajari yang muncul setelah terjadi pasangan US – CS.  Untuk lebih jelas dapat dilihat pada skema exsperimen Palvov berikut :
Sebelum Pengkondisian
 US (makanan)  >>>>>>>>>>>> UR (Keluar air liur)
 CS (lonceng) >>>>> tak ada CR (air liur tidak keluar)
Selama Pengkondisian
CS(lonceng) + US (makanan)>>>>> UR (keluar air liur)
Setelah Pengkondisian
CS (lonceng) >>>>>>> CR (keluar air liur)
(M. Asrori, 2008)
Berdasarkan eksperimen yang dilakukan Pavlov diperoleh kesimpulan berkenan dengan beberapa cara perubahan tingkah laku yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran (M. Asrori, 8:2008 dan Santrock, 270 : 2010) , yaitu :
a.    Generalization (generalisasi)
Generalization adalah pengaruh dari stimulus yang baru untuk menghasilkan respon yang sama. Misalnya murid dimarahi karena ujian biologinya buruk.  Saat murid untuk ujian kimia dia juga akan menjadi gugup karena kedua pelajaran tersebut saling berkaitan. Jadi murid menggeneralisasikan satu ujian mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lain.
b.    Discrimination (diskriminasi)
Descrimination dalam pengkondisian klasik terjadi ketika organisme merespon stimulus tertentu tetapi tidak merespon stimulus lainnya.  Dalam kasus murid yang mengikuti ujian di kelas, dia begitu gugup saat menempuh ujian pelajaran bahasa Indonesia atau sejarah karena kedua mata pelajaran tersebut jauh berbeda dengan mata pelajaran kimia dan biologi
c.    Extinction (pelenyapan)
Suatu stimulus yang dikondisikan tidak diikuti dengan stimulus tidak dikondisikan, lama kelamaan organisme tidak akan merespon.  Ini berarti bahwa respon secara bertahap terhapus.  Murid yang gugup mengikuti ujian akan mulai menempuh tes dengan lebih baik,dan kecemasannya mereda.
Teori pengembangan klasik ini sangat membantu untuk mamahami beberapa aspek pembelajaran dengan lebih baik dan juga membantu memahami kecemasan dan ketakutan pada murid dalam proses belajar dan pembelajaran .
3.    Gestalt
Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan, pola, ataupun kemiripan menjadi kesatuan.
Akhmad Sudrajat (Tersedia pada : http://belajarpsikologi.com/teori-belajar-gestalt/, 16 Maret 2011) menguraikan beberapa Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
a.    Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
b.    Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
c.      Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
d.      Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
e.      Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Jadi menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.
C.   Teori – Teori Belajar Proses
1.    Teori Skinner
Teori Skinner disebut juga dengan teori pengkondisian operan.  Pelopor teori ini adalah B.F. Skinner. Inti dari teori ini adalah dimana konsekunsi prilaku akan menyebabkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan terjadi (Santrock, 272:2010).
Konsekuensi – imbalan atau hukuman bersifat sementara pada prilaku organisme.  Contoh seorang siswa akan mengemas bukunya secara rapi jika dia tahu bahwa dia akan diberikan hadiah oleh gurunya.
Menurut Skinner, pengkondisian Operan terdiri dari 2 konsep utama, yaitu : penguatan (reinforcement), yang terbagi kedalam penguatan positif dan penguatan negative, dan hukuman (punishment). (M. Asrori, 9 : 2008)
Penguatan positiv (positeve reinforcement) adalah apa saja stimulus yang dapat meningkatkan sesuatu tingkah laku. Contoh seorang siswa yang mencapai prestasi tinggi diberikan hadiah maka dia akan mengulangi prestasi itu dengan harapan dapat hadiah lagi.  Penguatan bisa berupa benda, penguatan sosial (pujian, sanjungan) atau token (seperti nilai ujian).
Penguatan negativ (negative reinforcement) apa saja stimulus yang menyakitkan atau yang menimbulkan keadaan tidak menyenangkan atau tidak mengenakan perasaan sehingga dapat mengurangi terjadinya sesuatu tingkah laku.  Contoh seorang siswa akan meninggalkan kebiasaan terlambat mengumpulkan tugas/PR karena tidak tahan selalu dicemooh oleh gurunya.
Hukuman (punishment) adalah apa saja stimulus yang menyebabkan sesuatu respon atau tingkah laku menjadi berkurang atau bahkan langsung dihapuskan atau ditinggalkan.  Contoh seorang siswa yang tidak mengerjakan PR tidak dibolehkan bermain bersama teman-temannya saat jam istirahat.
Ada sejumlah teknik-teknik dalam pengkondisian operan yang dapat digunakan untuk pembentukan tingkah laku dalam pembelajaran (M.Asrori, 10:2008), yaitu :
a.    Pembentukan respon (Shaping Behaviour)
Teknik pembentukan respon ini dilakukan dengan cara menguatkan organisme pada saat setiap kali ia bertindak kearah yang diinginkan sehingga ia menguasai atau belajar merespon sampai suatu saat tidak lagi menguatkan respon tersebut.  Prosedur pembentukan respon bisa digunakan untuk melatih tingkah  laku siswa dalam proses pembelajaran agar secara bertahap mampu merespon stimulus dengan baik .  Contoh : apabila seorang guru memberikan ceramah, reaksi siswa sebagai pendengar dapat mempengaruhi bagaimana guru itu bertindak.  Jika sekelompok siswa mengangguk – angguk kepala mereka, ini dapat menguatkan guru tersebut untuk berceramah lebih semangat lagi.
b.    Generalisasi,Diskriminasi dan Penghapusan
Generalisasi adalah penguatan yang hampir sama dengan penguatan sebelumnya akan dapat menghasilkan respon yang sama. Contoh : Seorang siswa akan mengerjakan PR dengan tepat waktu karena pada minggu lalu mendapat pujian di depan kelas oleh gurunya ketia menyelesaikan PR tepat waktu.
Diskriminasi adalah respon organisme terhadap sesuatu penguatan, tetapi tidak terhadap penguatan yang lain.  Contoh : seorang siswa mengerjakan PR dengan tepat waktu Karena mendapat ujian dari gurunya pada mata pelajaran IPA, tetapi tidak begitu halnya ketika mendapat pujian dari guru  IPS.  Respon ini bias berbeda karena cara memberikan pujiannya sudah berbeda
Penghapusan adalah suatu respon terhapus secara bertahap apabila penguatan atau ganjaran tidak diberikan lagi.  Contoh : seorang siswa yang mampu mengerjakan PR dengan tepat waktu tadi bisa secara bertahap menjadi tidak tepat waktu karena gurunya tidak pernah lagi memberikan pujian sama sekali.
c.    Jadwal Penguatan (Schedule of reinforcement)
Skinner menyatakan bahwa cara atau waktu pemberian penguatan dapat mempengaruhi respon.  Penguatan disini dibagi menjadi 2 yaitu penguatan berkelanjutan (Continous Inforcement) dan penguatan berkala (Variabel Reinforcement).
Penguatan berkelanjutan adalah penguatan yang diberikan pada setiap saat setiap kali organisme menghasilkan respon.  Contoh : setiap kali siswa mampu mengerjakan soal dengan betul, guru selalu memberikan pujian kepadanya
Penguatan berkala adalah penguatan yang diberikan dalam jangka waktu tertentu.  Penguatan berkala terbagi dua , yaitu : berdasarkan nisbah (rasio) yang disebut penguatan nisbah dan berdasarkan interval waktu atau disebut juga dengan penguatan waktu.
Penguatan nisbah dibagi menjadi dua, yaitu : Nisbah tetap adalah apabila penguatan diberikan setelah beberapa respon terjadi. Misalnya ada 10 kali siswa memberikan respon baru diberikan 1 kali penguatan.  Dan nisbah berubah adalah apabila penguatan diberikan setelah beberapa kali respon muncul, tetapi kadarnya tidak tetap.  Misalnya penguatan diberikan kepada siswa kadang kala setelah 10 kali  respon kadang kala setelah 5 respon
Penguatan waktu juga dibagi dua, yaitu : waktu tetap adalah apabila penguatan diberikan pada akhir waktu yang ditetapkan. Misalnya memberikan pengutan kepada setiap respon yang muncul setelah 1 menit.  Waktu berubah adalah apabila penguatan diberikan pada akhir waktu yang ditetapkan, tetapi waktu yang ditetapkan itu berbeda berdasarkan respon yang muncul.
d.    Penguatan Positif
Penguatan posistif dilakukan dengan memberikan penguatan sesegera mungkin setelah suatu tingkah laku muncul.  Misalnya seorang siswa yang dapat menjawab pertanyaan guru maka pada sait itu juga guru segera memberikan pujian.
e.    Penguatan Intermiten
Penguatan intermiten dilakukan dengan memberikan penguatan untuk memelihara perubahan tingkah laku atau respon positif yang telah dicapai seseorang. Dengan penguatan seperti ini dapat menumbuhkan kepercayaan diri individu .  Misalnya : seorang siswa yang tadinya malu untuk membaca puisi di depan kelas, kemudian secara bertahap dia sudah tidak malu lagi dan mampu membaca puisi di depan kelas.  Maka guru memberikan pujian di depan teman-temannya agar keberanian membaca puisi di depan kelas tersebut dapat terpelihara.
f.     Penghapusan
Penghapusan dilakukan dengan cara tidak melakukan penguatan sama sekali atau tidak mengirakan respon yang akan muncul pada seseorang.  Misalnya siswa yang berbicara lucu dengan maksud memancing teman-temannya bergurau agar suasana kelas menjadi gaduh, tidak diberikan sapaan oleh guru bahkan guru tidak menghiraukannya. Denga demikian, siswa yang bersangkutan akan merasa bahwa apa yang dilakukannya tidak berkenan di hati gurunya   sehingga dia tidak akan melakukannya lagi.
g.    Percontohan (modeling)
Percontohan adalah prilaku atau respon individu yang dilakukan dengan mencontoh tingkah laku orang lain. Contohnya : seorang siswa berusaha berbicara dengan suara keras, tidak terges-gesa, sistematis, dan mudah dipahami karena dia meniru guru IPA yang selalu menunjukkan prilaku seperti itu pada saat mengajar. Oleh karena itu seorang guru harus mampu menunjukkan tutur kata, sikap, kemampuan, kecerdasan dan tingkah laku yang dapat dicontoh oleh siswa.
h.    Token Ekonomi
Adalah memberikan gambaran terhadap sesuatu yang memiliki nilai ekonomi ketika seseorang telah mampu menunjukkan respon atau tingkah laku yang positif sesuai dengan yang diharapkan.  Misalnya guru member hadiah buku novel yang bagus kepada seorang siswa
2.    Teori Gagne
Robert Gagne lahir tahun 1916 di North Andover, Beliau mendapatkan gelar A.B. pada Yale tahun 1937 dan pada tahun 1940 mendapat gelar Ph.D. Ada beberapa hal yang melandasi pandangan Gagne tentang belajar. menurutnya belajar bukan merupakan proses tunggal melainkan proses luas yang dibentuk oleh pertumbuhan dan perkembangan tingkah laku, dimana tingkah laku itu merupakan proses komulatif dari belajar. Artinya banyak keterampilan yang dipelajari memberikan sumbangan bagi belajar keterampilan yang lebih rumit.
Menurut Gagne belajar memberi kontribusi terhadap adaptasi yang diperlukan untuk mengembangkan proses yang logis, sehingga perkembangan tingkah laku (behavior) adalah hasil dari efek belajar yang kumulatif (Gagne, 1968). Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa belajar itu bukan proses tunggal. Belajar menurut Gagne tidak dapat didefinisikan dengan mudah, karena belajar bersifat kompleks. Hasil belajar merupakan kapabilitas. Setelah belajar, orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut berasal dari (1) stimulasi yang berasal dari lingkungan; dan (2) proses kognitif yang dilakukan siswa. Dengan demikian, belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi menjadi kapabilitas baru. Juga dikemukakan bahwa belajar merupakan faktor yang luas yang dibentuk oleh pertumbuhan, perkembangan tingkah laku merupakan hasil dari aspek kumulatif belajar. Berdasarkan pandangan ini Gagne mendefinisikan pengertian belajar secara formal bahwa belajar adalah perubahan dalam disposisi atau kapabilitas manusia yang berlangsung selama satu masa waktu dan tidak semata-mata disebabkan oleh proses pertumbuhan. Perubahan itu berbentuk perubahan tingkah laku. Hal itu dapat diketahui dengan jalan membandingkan tingkah laku sebelum belajar dan tingkah laku yang diperoleh setelah belajar. Perubahan tingkah laku dapat berbentuk perubahan kapabilitas jenis kerja atau perubahan sikap, minat atau nilai. Perubahan itu harus dapat bertahan selama periode waktu dan dapat dibedakan dengan perubahan karena pertumbuhan, missalnya perubahan tinggi badan atau perkembangan otot dan lain-lain.
Gagne membagi proses belajar berlangsung dalam empat fase utama, yaitu:
·         Fase pengenalan (apprehending phase). Pada fase ini peserta didik memperhatikan stimulus tertentu kemudian menangkap artinya dan memahami stimulus tersebut untuk kemudian ditafsirkan sendiri dengan berbagai cara. Ini berarti bahwa belajar adalah suatu proses yang unik pada tiap siswa, dan sebagai akibatnya setiap siswa bertanggung jawab terhadap belajarnya karena cara yang unik yang dia terima pada situasi belajar.
·         Fase perolehan (acqusition phase). Pada fase ini peserta didik memperoleh pengetahuan baru  dengan menghubungkan informasi yang diterima dengan pengetahuan sebelumya. Dengan kata lain pada fase ini siswa membentuk asosiasi-asosiasi antara informasi baru dan informasi lama.
·       Fase penyimpanan (storage phase). Fase storage/retensi adalah fase penyimpanan informasi, ada informasi yang disimpan dalam jangka pendek ada yang dalam jangka panjang, melalui pengulangan informasi dalam memori jangka pendek dapat dipindahkan ke memori jangka panjang.
·         Fase pemanggilan (retrieval phase). Fase Retrieval/Recall, adalah fase mengingat kembali atau memanggil kembali informasi yang ada dalam memori. Kadang-kadang dapat saja informasi itu hilang dalam memori atau kehilangan hubungan dengan memori jangka panjang. Untuk lebih daya ingat maka perlu informasi yang baru dan yang lama disusun secara terorganisasi, diatur dengan baik atas pengelompokan-pengelompokan menjadi katagori, konsep sehingga lebih mudah dipanggil.
Kemudian ada fase-fase lain yang dianggap tidak utama, yaitu :
·         Fase motivasi
sebelum pelajaran dimulai guru memberikan motivasi kepada siswa untuk belajar.
·         Fase generalisasi
adalah fase transer informasi pada situasi-situasi baru, agar lebih meningkatkan daya ingat, siswa dapat diminta mengaplikasikan sesuatu dengan informasi baru tersebut.
·         Fase penampilan
adalah fase dimana siswa harus memperlihatkan sesuatu penampilan yang nampak setelah mempelajari sesuatu.
·         Fase umpan balik, siswa harus diberikan umpan balik dari apa yang telah ditampilkan (reinforcement).
D.   Teori – Teori Kognitif
1.    Pemrosesan informasi
Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000: 175). Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama.  Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.
Pemerosesan informasi menyatakan bahwa murid mengolah informasi, memonitiringnya, dan menyusun strategi berkenaaan dengan informasi tersebut.  Inti dari pendekatan ini adalah proses memori dan berfikir (thinking). (Santrock, 310:2010).  Anak secara bertahap mengembangkan kapasitas untuk mengembangkan untuk memproses informasi, dan secara bertahap pula mereka biasa mendapatkan pengetahuan dan keahlian yang kompleks.
Pemerosesan informasi pada awalnya menggunakan sistem komputer sebagai analog.  Penggunaan sistem komputer sebagai analog cara manusia memproses, menyimpan dan mengingat kembali informasi sesungguhnya kurang tepat karena terlalu menyederhanakan manusia. Cara manusia memproses informasi sesungguhnya lebih kompleks dibandingkan dengan komputer. (M.Asrori, 13:2008)
Roobert Siegler (1998) mendeskripsikan tiga karateristik utama dari pendekatan pemrosesan informasi , yaitu : Proses pikiran, mekanisme pengubahan dan modifikasi diri. (Santrock, 310 :2010).
Pemikiran menurut pendapat Siegler (2002), berfikir adalah pemerosesan informasi.  Ketika anak merasakan, malakukan, mempresentasikan dan menyimpan informasi dari dunia sekelilingnya, mereka sedang melakukan proses berfikir.  Pikiran adalah sesuatu yang sangat fleksibel, yang menyebabkan individu bias beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan dalam lingkungan, tugas dan tujuan. (Santrock, 311 : 2010).
Mekanisme pengubahan menurut Siegler (2002) dalam pemerosesan informasi focus utamnya adalah pada peran mekanisme pengubah dalam perkembangan.  Ada empat mekanisme yang bekerjasama menciptakan perubahan dalam keterampilan kognitif anak, yaitu : Ecoding (penyandian), Otomatisasi, konstruksi strategis dan generalisasi.
Ecoding adalah proses memasukkan informasi kedalam memori.  Aspek utama dari pemecahan problem adalah menyandikan informasi dan relevan dan mengabaikan informasi yang tidak relevan.
Otomatisitas adalah kemampuan untuk memproses informasi dengan sedikit atau tanpa usaha.  Seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman, pemerosesan informasi menjadi makin otomatis, dan anak bisa mendeteksi hubungan – hubungan baru antara ide dan kejadian. (Kail, 2002 dalam Santrock, 311 : 2010).
Konstruksi Strategi yaitu penemuan prosedur baru untuk memproses informasi.  Anak perlu menyandikan informasi kunci untuk suatu problem dan mengoordinasikan informasi tersebut dengan pengetahun sebelumnya yang relevan untuk memecahkan masalah. 
Agar dapat manfaat penuh dari strategi baru diperlukan generalisasi. Anak perlu melakukan generalisasi, atau mengaplikasikan strategi pada problem lain.
Modifikasi diri.  Anak memainkan peran aktif dalam perkembangan mereka.  Mereka menggunakan pengetahuan dan strategi yang telah mereka pelajari untuk menyesuaikan respon pada situasi pembelajaran yang baru. Anak membangun respon baru dan lebih canggih berdasarkan pengetahuan dan strategi sebelumnya. 
2.    Metakognisi
Metakognisi adalah suatu kemampuan individu berdiri di luar kepalanya dan berusaha merenungkan cara dia berfikir atau merenungkan proses kognitif yang dilakukan. (M.Asrori, 20:2008).  Pengetahuan metakognisi melibatkan usaha monitoring dan refleksi pada pikiran seseorang pada saat sekarang.  Aktivitas metakognisi terjadi pada saat murid secara sadar menyesuaikan dan mengelola strategi pemikiran mereka pada saat memecahkan masalah dan memikirkan sesuatu tujuan. (Santrock, 340:2010).
Orang yang pertama memperkenalkan istilah metakognisi adalah John Flavell.  Ia membagi metakognisi keempat variable yang penting, yaitu :
a.    Variabel Individu
Variabel individu mengandung makna bahwa manusia itu adalah organism kognitif atau pemikir.  Segala tindak – tanduk kita adalah akibat dari cara kita berfikir.  Variabel individu dibagi menjadi tiga, yaitu :
·         Variabel Intra Individu
Variabel intra individu adalah apa saja yang terjadi di dalam diri seseorang.  Misalnya : seseorang yang mengetahui dirinya lebih pandai dalam mata pelajaran matematika dibandingkan dengan mata pelajaran sejarah.
·         Variabel antra individu
Variabel antra individu adalah kemampuan individu membandingkan dan membedakan kemampuan kognitif dirinya dengan orang lain.  Misalnya : seorang siswa mengetahui bahwa dirinya pandai pada mata pelajaran IPA dibandingkan dengan teman yang duduk dengan dia di kelasnya.
b.    Variabel Universal
Variabel universal adalah pengetahun yang diperoleh dari unsur-unsur yang ada didalam sistem budaya sendiri. Misalnya : mengetahui bahwa sebagai manusia kita lupa.  Sebenarnya kita paham terhadap apa yang kita lupakan, tetapi lama kelamaan kita sadar bahwa kita tidak paham
c.    Variabel Tugas
Variabel tugas adalah kesanggupan individu untuk mengetahui kesan-kesan, pentingnya dan hambatan sesuatu tugas kognitif. Contoh : seandainya informasi yang disampaikan oleh guru adalah sesuatu yang sulit dan siswa tahu bahwa guru tersebut tidak akan mengulangi, maka para siswa tentu akan memberikan perhatian yang lebih serius dan mendengarkan serta memproses informasi itu dengan lebih teliti.
d.    Variabel Strategi
Variabel strategi adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu atau mengatasi kesulitan yang timbul.
3.    Sibernetik
Menurut teori sibernetik, belajar adalah pengolahan informasi. (Hamzah Uno, 17 : 2006).  Dalam teori sibernetik yang lebih penting adalah sistem informasi yang diproses, karena informasi ini yang akan menentukan proses. 
Kelebihan Teori Sibernetik
·         Cara berfikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol.
·         Penyajian pengetahuan memenuhi aspek ekonomis.
·         Kapabilitas belajar dapat disajikan lebih lengkap.
·         Adanya keterarahan seluruh kegiatan kepada tujuan yang ingin dicapai.
·         Adanya transfer belajar pada lingkungan kehidupan yang sesungguhnya.
·         Kontrol belajar memungkinkan belajar sesuai dengan irama masing-masing individu
·         Balikan informativ memberikan rambu-rambu yang jelas tentang tingkat unjuk kerja yang telah dicapai dibandingkan dengan unjuk kerja yang diharapkan.
Kelemahan teori sibernetik adalah teori ini dikritik karena  lebih  menekankan   pada  sistem informasi yang dipelajari, dan kurang memperhatikan bagaimana  proses  belajar. 


BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Teori belajar adalah suatu teori yang di dalamnya terdapat tata cara pengaplikasian kegiatan belajar mengajar antara guru dan siswa, perancangan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan di kelas maupun di luar kelas. Namun teori belajar ini tidak-lah semudah yang dikira, dalam prosesnya teori belajar ini membutuhkan berbagai sumber sarana yang dapat menunjang, seperti : lingkungan siswa, kondisi psikologi siswa, perbedaan tingkat kecerdasan siswa. Semua unsure  ini dapat dijadikan bahan acuan untuk menciptakan suatu model teori belajar yang dianggap cocok, tidak perlu terpaku dengan kurikulum yang ada asalkan tujuan dari teori belajar ini sama dengan tujuan pendidikan.
Makalah ini sudah cukup banyak membahas tetang teori-teori pembelajaran.  Teori – teori pembelajaran tersebut menjelaskan apa itu belajar dan bagaimana mana belajar itu terjadi.  Teori Behavioristik merupakan teori yang menyatakan bahwa belajar adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antar stimulus dan respon.  Teori Pengkondisian Klasik menyatakan bahwa belajar merupakan suatu usaha dari organisme untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimulus yang pada akhirnya menghasilkan sustu respon.  Teori Gestalt lebih menekankan belajar adalah kecenderungan mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh. Inti dari Teori Skinner adalah dimana konsekunsi prilaku akan menyebabkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan terjadi .  Teori Gane menyatakan bahwa belajar bukan merupakan proses tunggal melainkan proses luas yang dibentuk oleh pertumbuhan dan perkembangan tingkah laku.  Teori Pemerosesan Informasi menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama.  Metakognisi adalah suatu kemampuan individu diluar kepalanya dan berusaha merenungkan cara dia berfikir  atau merenungkan proses kognitif yang dilakukan.  Sedangkan Sibernetik mengatakan bahwa belajar adalah pengolahan informasi .
Jadi masing-masing teori menjelaskan belajar dan pembelajaran dalam pengertian yang berbeda-beda.
Sumber : http://biologi-lestari.blogspot.com/2013/03/teori-teori-belajar-dan-pembelajaran.html